Selasa, 11 Juni 2013 - 09:46:34 WIB
Untirta Gelar Sosialisasi Uang Kuliah Tunggal
Diposting oleh : Adh@ilhami
Kategori: Kampus - Dibaca: 6711 kali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Serpong, 11 Juni 2013) Terkait banyaknya pertanyaan dan kekhawatiran dari mahasiswa maupun orang tua mahasiswa tentang Uang Kuliah Tunggal, maka Untirta mengadakan acara Sosialisasi Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diadakan di Serpong. Acara dibuka langsung oleh Rektor dan dihadiri oleh Sekjen Dikti Kemdikbud, serta seluruh unsur pimpinan Untirta, perwakilan BEM dan mahasiswa, dan juga LSM.

sosialisasi1

Wakil Rektor II Bidang Akademik, Dr. Hj. Yeyen Maryani, MSi. yang berlaku sebagai Ketua Panitia, menyampaikan bahwa acara ini dilaksanakan dalam rangka memberikan penjelasan langsung kepada baik Pimpinan Untirta, Mahasiswa, LSM, dan perwakilan stakeholders lainnya. Untuk dapat memberikan penjelasan secara jelas dan konkret, maka Untirta mengundang secara khusus Sekjen Dikti Kemdikbud, Bapak Patdono Suwignyo, untuk dapat secara langsung menjabarkan bagaimana dan apa tujuan dari Uang Kuliah Tunggal yang memang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

sosialisasi2

Rektor Untirta, Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., dalam sambutannya sekaligus membuka acara menyampaikan bahwa penting bagi kita (pimpinan Untirta) untuk memahami UKT ini sehingga dapat menjelaskan secara lengkap dan komprehensif terkait UKT kepada pihak-pihak yang membutuhkan sehingga tidak terjadi salah persepsi atau mispersepsi akan UKT. Pada prinsipnya UKT adalah total biaya operasional yang dibutuhkan menjalankan operasional perguruan tinggi dikurangi Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri yang didapat dari pemerintah. UKT tidak dibebankan sama kepada seluruh mahasiswa, namun sangat bergantung kepada kemampuan mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pihak yang bertanggungjawab membiayai mahasiswa.

sosialisasi3

Sekjen Dikti, Patdono Suwignyo, sebagai pemateri utama, memaparkan mulai dari Undang-Undang No 12, hingga pada akhirnya munculnya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Uang Kuliah Tunggal tersebut dijabarkan mulai dari Unit Cost per Prodi, Biaya Kuliah Tunggal, dan pada akhirnya menjadi Uang Kuliah Tunggal. Pada prinsipnya berdasarkan amanat Undang-undang biaya Non Operasional Perguruan Tinggi seperti investasi dan Pembangunan gedung merupakan tanggungjawab pemerintah. Sehingga yang menjadi tanggungjawab perguruan tinggi adalah biaya operasional (Operating Cost) atau nantinya menjadi Biaya Kuliah Tunggal, sejak adanya BOPTN maka sebagian dari Biaya Operasional ini ditanggung oleh pemerintah dan sebagian lagi menjadi tanggungjawab dari mahasiswa (masyarakat). Biaya yang ditanggung oleh masyarakat inilah yang disebut dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT). 

Besarnya BOPTN ini sangat bergantung dari 3 hal yaitu Indeks Jenis Program Studi, Indeks Mutu PT, dan Indeks Kemahalan dari propinsi PT berada. Lebih lanjut Sekjen Dikti memberikan contoh bahwa jika disuatu daerah katakanlah Banten harga semen 1 sak adalah Rp. 53.000,- dan di Papua Rp. 1.000.000,-, maka tentu besarnya BOPTN untuk Papua harus lebih besar dari Banten. Dengan formula Biaya Kuliah Tunggal besarnya BOPTN diberikan ke Perguruan Tinggi yang nantinya berdampak pada besarnya UKT yang harus dibayarkan oleh mahasiswa. Adapun formula Biaya Kuliah Tunggal adalah sebagai berikut:

BIAYA KULIAH TUNGGAL = C X K1 X K2 X K3

Dimana:

C = Rp. 5,08 JT = "Biaya Kuliah Tunggal Basis" yang dihitung dari data yang ada di PTN

K1 = Indeks Jenis Program Studi

K2 = Indeks Mutu PT

K3 = Indeks Kemahalan (wilayah)

Biaya Kuliah Tunggal dikurangi BOPTN akan menjadi dasar untuk penentuan Uang Kuliah Tunggal. Dimana formula BKT = BOPTN + UKT. Sehingga secara prinsipnya Sekjen Dikti meyakini bahwa penerapan Uang Kuliah Tunggal ini akan sangat membantu bagi mahasiswa tidak mampu. Di sela-sela tanya jawab Sekjen Dikti juga mengajak kita berharap agar Keuangan Negara semakin membaik agar BOPTN dapat semakin besar yang pada akhirnya akan berdampak pada UKT yang semakin kecil. 

Tanya jawab berlangsung menarik dan bahkan perwakilan dari Presma Untirta, Angga, mangajukan beberapa pertanyaan tentang bagaimana proses peng-kategori-an berdasarkan kategori UKT yang ada 5 tersebut, selain itu mahasiswa juga memberikan apresiasinya atas kemauan Untirta untuk menerapkan UKT dengan 5 kategori (kelompok) sesuai edaran dikti, tidak lebih dari 5 kategori.

Sebagaimana yang telah diketahui sebelumnya bahwa kategori UKT yang ditetapkan oleh Untirta berdasarkan edaran Dikti yaitu 5 kategori, meski di beberapa perguruan tinggi lain ada juga yang menerapkan hingga 7 kategori. Adapun rincian kategorinya tersebut adalah sebagai berikut:

sosialisasi5

Anggapan dulu mengenai kuliah adalah sarjana hanya bagi orang berduit tampaknya akan dimentahkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dimana Sekjen Dikti menyatakan bahwa apa yang direncanakan kementerian adalah tekad untuk membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi kalangan manapun untuk kuliah. Oleh karenanya saat ini yang diperlukan oleh calon mahasiswa adalah kekuatan otak-nya sehingga dia mampu bersaing secara akademis untuk masuk dan duduk sebagai mahasiswa di perguruan tinggi idamannya. 

Selain adanya bantuan pemerintah melalui BOPTN yang nantinya akan berpengaruh pada besaran UKT, pemerintah juga mengupayakan bantuan melalui beasiswa. Hal ini disampaikan oleh Bapak Widyo Winarso dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Dikti. Adapun bantuan beasiswa yang disediakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan antara lain:

1. Beasiswa Mahasiswa Peraih Olimpiade Sains Internasional (OSI) / setara

2. Beasiswa PPA dan BBM

3. Biaya Pendidikan Bidikmisi

4. Beasiswa Mahasiswa Peraih Medali Olahraga

5. Beasiswa Masyarakat Dalam/Luar Negeri

6. Beasiswa Dunia Industri (DUDI) / CSR yang antara lain : Tanoto Foundation, Beasiswa Djarum, Beasiswa Mandiri, dll.

Besarnya upaya pemerintah ini wajib diapresiasi oleh berbagai pihak, dan yang dibutuhkan adalah sosialisasi seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi pihak yang sangat membutuhkan. Pemerintah juga menghimbau agar calon mahasiswa dari keluarga berada tidak berupaya untuk mendapatkan beasiswa yang bukan haknya. Perlu dibangun sikap mental yang peduli terhadap orang lain yang lebih membutuhkan dan juga sikap mental yang tepat, sehingga tidak lagi didapati orang/mahasiswa yang mampu dan berada namun merasa bangga mendapatkan beasiswa BBM yang terang saja sebenarnya diperuntukkan bagi mahasiswa dari kalangan yang tidak mampu.

sosialisasi6

Rektor dalam arahannya di kesempatan ini menekankan pentingnya bagi segenap pimpinan untuk memahami UKT dan memberikan pemahaman yang benar kepada mahasiswa dan stakeholder sehingga mahasiswa dan juga stakeholder mampu mengerti dan justru mendukung program pemerintah ini. Selain itu Rektor juga menghimbau kepada pimpinan Fakultas untuk dapat bertekad meningkatkan akreditasi program studi di Fakultasnya masing-masing. Perlu ada rasa kebanggaan bagi Fakultas yang memiliki prodi dengan akreditasi A. 

Acara sendiri saat ini masih berlangsung hingga berita ini diturunkan, dimana agenda berikutnya adalah presentasi hasil telaah besaran UKT yang akan dibebankan kepada calon mahasiswa baru berdasarkan data yang dikumpulkan pada saat registrasi ulang jalur SNMPTN 2013.